E-Book Versi Cetak dijual Lebih Murah di Pasaran

JAKARTA–MI: Buku murah versi cetak yang telah diunduh (download) dari situs buku sekolah elektronik (BSE) sudah beredar di pasaran. Untuk itu, guru dan murid dapat langsung membeli buku tersebut di pasaran, dengan harga yang jauh lebih murah.

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo mengatakan penyediaan buku cetak BSE ini diharapkan bisa meringankan beban masyarakat dalam pembiayaan pendidikan, khusunya pembelian buku teks.

Baca lebih lanjut

Iklan

Metode Pembelajaran Inquiry

Pengaruh Metode Pembelajaran Inquiry dalam Belajar Sains terhadap Motivasi Belajar Siswa

Oleh: Joko Sutrisno, S.Si., M.Pd.

Abstract

Inquiry-Based Learning is a common method in teaching science that often associated with the active nature of student involvement, investigation and the scientific method, critical thinking, hands-on learning, and experiential learning. It will be studied in this paper whether or not the method of inquiry-based learning influences the student motivation to learn. Using some theories of motivation, it was found that inquiry method positively influences the learning motivation of students. This positive influence occurs when the learning through inquiry method is conducted in appropriated conditions, for example the questions that teachers provide have to produce arousal and student curiosity.

Baca lebih lanjut

KTSP Membuat Guru Kreatif

Penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) di setiap sekolah setingkat SD, SMP dan SMA, akan membuat guru semakin pintar, karena mereka dituntut harus mampu merencanakan sendiri materi pelajarannya untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Kurikulum yang selama ini dibuat dari pusat, menyebabkan kreativitas guru kurang terpupuk, tetapi dengan KTSP, kreativitas guru bisa berkembang.
Demikian pendapat dari pakar kurikulum, Dr Karnadi dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Prof Dr Ansyar dari Universitas Negeri Padang (Unan). Pendapat kedua pakar itu dilontarkan berkaitan dengan munculnya KTSP 2006 sebagai pengganti kurikulum berbasis kompetensi (KBK) 2004.

Baca lebih lanjut

KTSP Menuju Kurikulum “Less Is More”

Written by St Kartono – Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

"Aku pikir mereka akan berbicara tentang semangat baru sebuah kurikulum dan berbagai pendekatan kepada siswa. Ternyata, yang namanya sosialisasi kurikulum baru oleh para pengawas dari Dinas Pendidikan hanyalah bicara hal-hal administratif belaka." Itulah ungkapan kekecewaan sebagian guru sebuah SMA di Yogyakarta, ketika usai mengikuti sosialisasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Pertanyaan saya, benarkah pembaruan kurikulum hanya sebatas perubahan administratif?

Mestinya, sebuah kurikulum baru menghadirkan refleksi yang positif pada praksisnya.

Akan tetapi, perlu disadari bahwa kurikulum bukanlah satu-satunya unsur yang penting dalam pencapaian tujuan pendidikan. Masih ada buku pelajaran, pengelolaan persekolahan, administrasi, biaya, guru, peranan orangtua, dan siswa sendiri.

Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa selalu terjadi kesenjangan antara kurikulum yang direncanakan atau diidealkan dengan pelaksanaannya di lapangan. Kritik terhadap kesenjangan implementasi kurikulum di lapangan lebih banyak ditujukan kepada guru.

Baca lebih lanjut

SEKOLAH YANG EFEKTIF DAN BERKEMBANG

Oleh :

Dr. Aria Jalil
(Konsultan QA pada Proyek Pertuasan dan Peningkatan Mutu SLTP Jakarta)

PENDAHULUAN

Saya mulai uraian ini dengan mengetengahkan apa makna pendidikan atau “education”. Asal-usul kata “education” adalah “educo”, yang mengandung makna: “to lead out; to take out with one to one’s province; to bring out a ship from the haibour; to put to sea; to assist at birth; to nourish and support” (Lewis & Short Latin Dictionary).

Dikaitkan dengan peran seorang guru, maka guru dilukiskan sebagai pemimpin, pembimbing, pendorong, pembantu, bidan, pemelihara, dan pendukung.

Menjadi guru masa kini perlu memberi bentuk baru dalam hubungannya dengan anak didiknya, yaitu dan bentuk “power relationship” ke bentuk “shared relationship”, yaitu dari posisi mengontrol ke posisi kerjasama. lsu yang kritikal dalam pendidikan bukan lagi bagaimana agar guru mampu mengontrol kelasnya, tetapi bagaimana agar anak didik kita terlibat langsung atau aktif dalam pern belajaran.

Baca lebih lanjut

ESENSI PENDIDIKAN NILAI MORAL DAN PKN DI ERA GLOBALISME

Prof.Drs.H.A.Kosasih Djahiri

the 20th century has been characterized by three developments of great political importance:
The growth of democracy, the growth of corporate power, and the growth of corporate propaganda as a means of protecting corporate power against democracy ( Alex Carey ).
My country is the world, and my religion is to do good.(Thomas Paine)

Pendahuluan
Tidak seorangpun mampu melepaskan diri dari hakekat kodrati manusia sebagai insan yang dapat dididik dan belajar sepanjang hayat (educated human being), sehingga dinamik berubah sepanjang masa.Pengalaman hidup manusia (life experiences) adalah pengalaman belajar manusia yang dari waktu/kondisi/tempat ke waktu/kondisi/tempat mengembangkan potensi diri dan kehidupan kita baik dalam arus posiitif maupun arus negatif.

Baca lebih lanjut

PARADIGMA BARU DALAM PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN LEARNING IS FUN

Oleh Drs. Anwar Fuady, M.Ed

Widyaiswara Madya P4TK-BMTI Bandung

Learning is fun. Belajar itu menyenangkan. Tapi, siapa yang menjadi stakeholder dalam proses pembelajaran yang menyenangkan itu? Jawabannya adalah siswa. Siswa harus menjadi arsitek dalam proses belajar mereka sendiri. Kita semua setuju bahwa pembelajaran yang menyenangkan merupakan dambaan dari setiap peserta didik. Karena proses belajar yang menyenangkan bisa meningkatkan motivasi belajar yang tinggi bagi siswa guna menghasilkan produk belajar yang berkualitas. Untuk mencapai keberhasilan proses belajar, faktor motivasi merupakan kunci utama. Seorang guru harus mengetahui secara pasti mengapa seorang siswa memiliki berbagai macam motif dalam belajar. Ada empat katagori yang perlu diketahui oleh seorang guru yang baik terkait dengan motivasi “mengapa siswa belajar”, yaitu (1) motivasi intrinsik (siswa belajar karena tertarik dengan tugas-tugas yang diberikan), (2) motivasi instrumental (siswa belajar karena akan menerima konsekuensi: reward atau punishment), (3) motivasi sosial (siswa belajar karena ide dan gagasannya ingin dihargai), dan (4) motivasi prestasi (siswa belajar karena ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa dia mampu melakukan tugas yang diberikan oleh gurunya).

Baca lebih lanjut