Kejujuran Menyusun Portofolio Cermin profesionalisme Seorang Guru

Adadua macam pelaksanaan sertifikasi guru, yaitu:melalui penilaian portofolio bagi guru dalam jabatan, dan melalui pendidikan profesi bagi calon guru

Sertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui penilaian portofolio. Penilaian portofolio tersebut merupakan pengakuan atas pengalaman profesional guru dalam bentuk penilaian
terhadap kumpulan dokumen yang mendeskripsikan:
a. kualifikasi akademik;
b. pendidikan dan pelatihan;
c. pengalaman mengajar;
d. perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran;
e. penilaian dari atasan dan pengawas;
f. prestasi akademik;
g. karya pengembangan profesi;
h. keikutsertaan dalam forum ilmiah;
i. pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial;
j. penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.

Yang jadi masalah dalam penyusunan portofolio tersebut adalah sudahkah perserta sertifikasi berbuat jujur dalam penyususnan portofolio, ini menjadi tanda tanya besar menurut saya.




Dengan 10 macam komponen tersebut memang sulit untuk mencapai batas nilai kelulusan sertifikasi, terutama untuk mereka yang mengajar di daerah pedesaan.

Dalam penyususnan portofolio ini rawan terhadap pemalsuan dokumen, dengan era teknologi yang semakin maju memungkinkan hal tersbut dilakukan. Banyak rental – rental yang menyediakan jasa scanning dokumen, dan pemalsuan dokumen.

Yang menjadi tolak ukur dalam sertifikasi guru menurut saya adalah kejujuran perserta sertifikasi itu sendiri. Kalau perserta sertifikasi guru masih banyak yang melakukan pemalsuan dokumen, mau dibawa kemana arah pendidikan / mutu pendidikan bangsa ini.

Janganlah sertifikasi guru ini hanya digunakan untuk mencari tambahan tunjangan / finansial. Tapi pikirakan martabat guru dan mutu pendidikan kita, dan harus diingat Sertifikasi merupakan sarana atau instrumen untuk meningkatkan kualitas kompetensi guru.

Disini saya tidak mencari kambing hitamnya, janganlah kita meyalahkan siapa – siapa, atau menyalahkan sistem ataupun asesornya (asesor juga manusia). Marilah kita nilai diri kita sendiri , sudahkah kita berbuat jujur. Kenapa harus takut dengan nilai rendah, kalau memang kenyataannya begitu.

Justru beruntunglah bagi mereka yang tidak lolos sertifikasi, dan mendapat kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan profesi guru, yang mana peserta akan mendapatkan materi – materi dan modul modul untuk meningkatkan kualitas kompentensi guru.

Sertifikasi guru tiak akan berhasil dengan maksimal tanpa adanya peran serta lembaga – lembaga terkait. Terutama dalam sosialisasi UUGD dan Sosialisasi Sertifikasi Guru Dalam Jabatan.

Janganlah sosialisasi ini digunakan unutk mencari finansial, sebab dalam kenyataanya banyak dilakukan sosialisasi , seminar tentang sertifikasi guru yang dilaksanakan di hotel – hotel dengan membayar dengan sejumlah uang.
Tulisan ini saya tulis bendasarkan pengamatan dan bincang – bincang dengan teman – teman guru, dan mereka masih banyak yang kebingungan denga Sertifikasi Guru.

Penulis : Wijianto
Pekerjaan : Karyawan Swasta
Email : wijianta@gmail.com

Satu Tanggapan

  1. Telah ku baca Kang… Trimakasih Informasinya hhehehe, salam kenal. Dengan ini daku mulai melangkah pasti tentang sertifikasiku yang hari ini kumulai. Doanya kang agar lancar… Trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: